Oleh: dedepln26 | 3 Maret 2009

Derajat Hadits Fadhilah Surat Yasin

MUQADDIMAH

Kebanyakan kaum muslimin membiasakan membaca surat Yasin, baik pada malam Jum’at, ketika mengawali atau menutup majlis ta’lim, ketika ada atau setelah kematian dan pada acara-acara lain yang mereka anggap penting. Saking seringnya surat Yasin dijadikan bacaan di berbagai pertemuan dan kesempatan, sehingga mengesankan, Al-Qur’an itu hanyalah berisi surat Yasin saja. Dan kebanyakan orang membacanya memang karena tergiur oleh fadhilah atau keutamaan surat Yasin dari hadits-hadits yang banyak mereka dengar, atau menurut keterangan dari guru mereka.

Al-Qur’an yang di wahyukan Allah adalah terdiri dari 30 juz. Semua surat dari Al-Fatihah sampai An-Nas, jelas memiliki keutamaan yang setiap umat Islam wajib mengamalkannya. Oleh karena itu sangat dianjurkan agar umat Islam senantiasa membaca Al-Qur’an. Dan kalau sanggup hendaknya menghatamkan Al-Qur’an setiap pekan sekali, atau sepuluh hari sekali, atau dua puluh hari sekali atau khatam setiap bulan sekali. (Hadist Riwayat Bukhari, Muslim dan lainnya).

Sebelum melanjutkan pembahasan, yang perlu dicamkan dan diingat dari tulisan ini, adalah dengan membahas masalah ini bukan berarti penulis melarang atau mengharamkan membaca surat Yasin.

Sebagaimana surat-surat Al-Qur’an yang lain, surat Yasin juga harus kita baca. Akan tetapi di sini penulis hanya ingin menjelaskan kesalahan mereka yang menyandarkan tentang fadhilah dan keutamaan surat Yasin kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Selain itu, untuk menegaskan bahwa tidak ada tauladan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat Yasin setiap malam Jum’at, setiap memulai atau menutup majlis ilmu, ketika dan setelah kematian dan lain-lain.

Mudah-mudahan keterangan berikut ini tidak membuat patah semangat, tetapi malah memotivasi untuk membaca dan menghafalkan seluruh isi Al-Qur’an serta mengamalkannya.

KELEMAHAN HADITS-HADITS TENTANG FADHILAH SURAT YASIN

Kebanyakan umat Islam membaca surat Yasin karena -sebagaimana dikemukakan di atas- fadhilah dan ganjaran yang disediakan bagi orang yang membacanya. Tetapi, setelah penulis melakukan kajian dan penelitian tentang hadits-hadits yang menerangkan fadhilah surat Yasin, penulis dapati Semuanya Adalah Lemah.

Perlu ditegaskan di sini, jika telah tegak hujjah dan dalil maka kita tidak boleh berdusta atas nama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebab ancamannya adalah Neraka. (Hadits Riwayat Bukhari, Muslim, Ahmad dan lainnya).

HADITS DHA’IF DAN MAUDHU’

Adapun hadits-hadits yang semuanya dha’if (lemah) dan atau maudhu’ (palsu) yang dijadikan dasar tentang fadhilah surat Yasin diantaranya adalah sebagai berikut :

Hadist 1

Artinya: “Siapa yang membaca surat Yasin dalam suatu malam, maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya dan siapa yang membaca surat Ad-Dukhan pada malam Jum’at maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya.” (Ibnul Jauzi, Al-Maudhu’at, 1/247).

Keterangan: Hadits ini Palsu.

Ibnul Jauzi mengatakan, hadits ini dari semua jalannya adalah batil, tidak ada asalnya. Imam Daruquthni berkata: Muhammad bin Zakaria yang ada dalam sanad hadits ini adalah tukang memalsukan hadits. (Periksa: Al-Maudhu’at, Ibnul Jauzi, I/246-247, Mizanul I’tidal III/549, Lisanul Mizan V/168, Al-Fawaidul Majmua’ah hal. 268 No. 944).

Hadits 2

Artinya: “Siapa yang membaca surat Yasin pada malam hari karena mencari keridhaan Allah, niscaya Allah mengampuni dosanya.”

Keterangan: Hadits ini Lemah.

Diriwayatkan oleh Thabrani dalam kitabnya Mu’jamul Ausath dan As-Shaghir dari Abu Hurairah, tetapi dalam sanadnya ada rawi Aghlab bin Tamim. Kata Imam Bukhari, ia munkarul hadits. Kata Ibnu Ma’in, ia tidak ada apa-apanya (tidak kuat). (Periksa: Mizanul I’tidal I:273-274 dan Lisanul Mizan I : 464-465).

Hadits 3

Artinya: “Siapa yang terus menerus membaca surat Yasin pada setiap malam, kemudian ia mati maka ia mati syahid.”

Keterangan: Hadits ini Palsu.

Hadits ini diriwayatkan oleh Thabrani dalam Mu’jam Shaghir dari Anas, tetapi dalam sanadnya ada Sa’id bin Musa Al-Azdy, ia seorang pendusta dan dituduh oleh Ibnu Hibban sering memalsukan hadits. (Periksa: Tuhfatudz Dzakirin, hal. 340, Mizanul I’tidal II : 159-160, Lisanul Mizan III : 44-45).

Hadits 4

Artinya: “Siapa yang membaca surat Yasin pada permulaan siang (pagi hari) maka akan diluluskan semua hajatnya.”

Keterangan: Hadits ini Lemah.

Ia diriwayatkan oleh Ad-Darimi dari jalur Al-Walid bin Syuja’. Atha’ bin Abi Rabah, pembawa hadits ini tidak pernah bertemu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab ia lahir sekitar tahun 24H dan wafat tahun 114H.

(Periksa: Sunan Ad-Darimi 2:457, Misykatul Mashabih, takhrij No. 2177, Mizanul I’tidal III:70 dan Taqribut Tahdzib II:22).

Hadits 5

Artinya: “Siapa yang membaca surat Yasin satu kali, seolah-olah ia membaca Al-Qur’an dua kali.” (Hadits Riwayat Baihaqi dalam Syu’abul Iman).

Keterangan: Hadits ini Palsu.

(Lihat Dha’if Jamiush Shaghir, No. 5801 oleh Syaikh Al-Albani).

Hadits 6

Artinya: “Siapa yang membaca surat Yasin satu kali, seolah-olah ia membaca Al-Qur’an sepuluh kali.” (Hadits Riwayat Baihaqi dalam Syu’abul Iman).

Keterangan: Hadits ini Palsu.

(Lihat Dha’if Jami’ush Shagir, No. 5798 oleh Syaikh Al-Albani).

Hadits 7

Artinya: “Sesungguhnya tiap-tiap sesuatu mempunyai hati dan hati (inti) Al-Qur’an itu ialah surat Yasin. Siapa yang membacanya maka Allah akan memberikan pahala bagi bacaannya itu seperti pahala membaca Al-Qur’an sepuluh kali.”

Keterangan: Hadits ini Palsu.

Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (No. 304 8) dan Ad-Darimi 2:456. Di dalamnya terdapat Muqatil bin Sulaiman. Ayah Ibnu Abi Hatim berkata: Aku mendapati hadits ini di awal kitab yang di susun oleh Muqatil bin Sulaiman. Dan ini adalah hadits batil, tidak ada asalnya. (Periksa: Silsilah Hadits Dha’if no. 169, hal. 202-203). Imam Waqi’ berkata: Ia adalah tukang dusta. Kata Imam Nasa’i: Muqatil bin Sulaiman sering dusta.

(Periksa: Mizanul I’tidal IV:173).

Hadits 8

Artinya: “Siapa yang membaca surat Yasin di pagi hari maka akan dimudahkan (untuknya) urusan hari itu sampai sore. Dan siapa yang membacanya di awal malam (sore hari) maka akan dimudahkan urusannya malam itu sampai pagi.”

Keterangan: Hadits ini Lemah.

Hadits ini diriwayatkan Ad-Darimi 2:457 dari jalur Amr bin Zararah. Dalam sanad hadits ini terdapat Syahr bin Hausyab. Kata Ibnu Hajar: Ia banyak memursalkan hadits dan banyak keliru. (Periksa: Taqrib I:355, Mizanul I’tidal II:283).

Hadits 9

Artinya: “Bacakanlah surat Yasin kepada orang yang akan mati di antara kamu.”

Keterangan: Hadits ini Lemah.

Diantara yang meriwayatkan hadits ini adalah Ibnu Abi Syaibah (4:74 cet. India), Abu Daud No. 3121. Hadits ini lemah karena Abu Utsman, di antara perawi hadits ini adalah seorang yang majhul (tidak diketahui), demikian pula dengan ayahnya. Hadits ini juga mudtharib (goncang sanadnya/tidak jelas).

Hadits 10

Artinya: “Tidak seorang pun akan mati, lalu dibacakan Yasin di sisinya (maksudnya sedang naza’) melainkan Allah akan memudahkan (kematian itu) atasnya.”

Keterangan: Hadits ini Palsu.

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitab Akhbaru Ashbahan I :188. Dalam sanad hadits ini terdapat Marwan bin Salim Al Jazari. Imam Ahmad dan Nasa’i berkata, ia tidak bisa dipercaya. Imam Bukhari, Muslim dan Abu Hatim berkata, ia munkarul hadits. Kata Abu ‘Arubah Al Harrani, ia sering memalsukan hadits. (Periksa: Mizanul I’tidal IV : 90-91).

PENJELASAN

Abdullah bin Mubarak berkata: Aku berat sangka bahwa orang-orang zindiq (yang pura-pura Islam) itulah yang telah membuat riwayat-riwayat itu (hadits-hadits tentang fadhilah surat-surat tertentu). Dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata: Semua hadits yang mengatakan, barangsiapa membaca surat ini akan diberikan ganjaran begini dan begitu SEMUA HADITS TENTANG ITU ADALAH PALSU. Sesungguhnya orang-orang yang memalsukan hadits-hadits itu telah mengakuinya sendiri. Mereka berkata, tujuan kami membuat hadits-hadits palsu adalah agar manusia sibuk dengan (membaca surat-surat tertentu dari Al-Qur’an) dan menjauhkan mereka dari isi Al-Qur’an yang lain, juga kitab-kitab selain Al-Qur’an. (Periksa: Al-Manarul Munffish Shahih Wadh-Dha’if, hal. 113-115).

KESIMPULAN

Dengan demikian jelaslah bahwa hadit-hadits tentang fadhilah dan keutamaan surat Yasin, semuanya LEMAH dan PALSU. Oleh karena itu, hadits-hadits tersebut tidak dapat dijadikan hujjah untuk menyatakan keutamaan surat ini dan surat-surat yang lain, dan tidak bisa pula untuk menetapkan ganjaran atau penghapusan dosa bagi mereka yang membaca surat ini. Memang ada hadits-hadits shahih tentang keutamaan surat Al-Qur’an selain surat Yasin, tetapi tidak menyebut soal pahala. Wallahu A’lam.

***

Penyusun: Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Dipublikasikan kembali oleh www.muslim.or.id dari blog Abu Aufa

About these ads

Responses

  1. kalau anda sendiri apa ahli hadis? sehingga dengan mudah mengatakan sesungguhnya membaca surat yasin sama saja dengan membaca ayat lain?
    Pernahkah dan sadarkah anda bahwa alim ulama terdahulu lebih alim dari pada anda?
    Orang seperti anda justru yang harus banyak belajar memahami dan menghormati alim ulama.
    Jangan berani berkata demikian jika anda masih belum bisa menandingi ulama sufi terdahulu.
    Tahukah anda, orang atau golongan yang sering membaca tahlil, yassin adalah orang-orang yang beruntung.
    Jika anda tidak setuju dan hanya mengandalkan bahwa ZAMAN NABI SAW TIDAK PERNAH MELAKUKAN, BERARTI ANDA SEMPIT. Jika begitu, bagaimana pandangan anda tentang penggunaan Al Quran yang ditulis dan anda baca sekarang? bukankah pada zaman Nabi SAW itu tidak ada??
    Membaca tahlil, yassin adalah sebuah amalan baik dan pasti berpahala. Kok beraninya anda mengatakan ini doif.

  2. ana tidak merasa sebagai ahli hadist, tapi ana belajar dari perawi2 hadist yang telah diakui oleh para ulama2 seperti bukhari, Muslim, Nasa’i, Ibnu Majah, Abu Dawud, Imam Ahmad dan lain2…ya mungkin antum belum pernah belajar membaca kitab dan hanya mengandalkan apa yang dikatakan oleh ustadz antum saja tanpa membuktikannya dengan membaca kitab2 atau riwayat hadist2 yang sahih dan dhoif/lemah….apakah antum belum pernah dengar hadist nabi yang berbunyi “”fa inna asdaqol haditsi kitabullah wa khoirul haddihadyi muhammad salolauhu alaiwasalam wa sarol umuri mukhdatsatuha wa kulla mukhdasatin bidahtin wakulla bidatin dholala wakulla dhollati finnar”(sesungguhnya sebaik2 petunjuk adalah ptunjuk allah swt dan sebaik2 prkataan adalah perkataan rasulullah saw dan sejelek jelek perkara adalah PERKARA BARU YANG DIADA-ADAKAN DALAM AGAMA,PERKARA ITU ADALAH BIDAH,SETIAP BIDAH ADALAH SESAT DAN KESESATAN ITU TMPATNYA D NERAKA) adapun tahlil dan membaca yasin dihari2 tertentu itu tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW…coba antum baca sekali lagi artikelnya dengan pelan2 dan antum pahami….oh ya Allah SWT juga berfirman sebelum Rasulullah SAW wafat dalam surat Al Maidah ayat 3 yang berbunyi
    “الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا ”
    Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.
    yang oleh syeikh ibnu katsir diartikan “Pada hari ini telah Kusempurnakan bagimu agamamu, telah Kucukup-kan nikmat-Ku bagimu, dan telah Kuridhai Islam sebagai agamamu.” Inilah nikmat Allah yang paling besar yang dikaruniakan kepada umat ini, karena Dia telah menyempurnakan agama mereka sehingga mereka tidak memerlukan selain agama-Nya dan tidak memerlukan seorang nabi pun kecuali Nabi saw.. Oleh karena itu, Allah menjadikan beliau sebagai penutup para nabi dan Dia mengutusnya kepada manusia dan jin. Maka tiada perkara halal kecuali yang telah dihalalkannya, tiada perkara haram kecuali yang telah diharamkannya, dan tiada agama kecuali yang telah disyariatkannya. Setiap perkara yang diinformasi-kan olehnya merupakan kebenaran dan kejujuran; tiada mengandung dusta dan kekeliruan sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, “Dan kalimat Tuhanmu telah sempurna kebenaran dan keadilannya”, yakni kebenaran infbrmasinya dan ke-adilan yang menyangkut berbagai perintah dan larangan. Setelah Allah menyempurnakan agama bagi mereka, berarti sempurnalah nikmat atas mereka. Oleh karena itu, Dia berfirman, “Pada hari ini telah Kusempurnakan bagimu agamamu, telah Kucukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Kuridhai Islam sebagai agamamu.” Maka ridhailah olehmu Islam untuk dirimu karena ia merupakan agama yang diridhai Allah dan dibawa oleh Rasul yang paling utama dan dikandung oleh kitab-Nya yang paling mulia. Setelah turun ayat ini, kaum mukminin yang muslim tidak memerlukan tambahan apa pun. Sesungguhnya Allah telah menyempurnakan Islam maka jangan pernah kamu menguranginya. Sesungguhnya Dia telah meridhainya maka jangan pernah kamu membencinya. Ayat ini diturunkan pada hari Arafah. Setelah ayat itu, tidak diturunkan lagi ayat yang menyangkut hukum halal dan haram. Rasulullah saw. meninggal 81 hari setelah hari Arafah. Imam Ahmad meriwayatkan dari Thariq bin Syihab, dia berkata, “Seorang Yahudi datang kepada Umar bin Khaththab, dia berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya kalian membaca sebuah ayat dalam kitabmu. Jika ayat itu diturunkan kepada kami, kaum Yahudi, niscaya kami menjadikan hari penurunan itu sebagai hari raya.’ Umar berkata, ‘Ayat yang manakah itu?’ Yahudi berkata, ‘Yaitu firman Allah Ta’ala, “Pada hari ini telah Kusempurnakan bagimu agamamu, telah Kucukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Kusempurnakan Islam sebagai agamamu.” Kemudian Umar berkata, ‘Demi Allah, sesungguhnya aku mengetahui hari diturunkan ayat itu kepada Rasulullah dan saat diturunkan ayat itu kepadanya, yaitu pada malam Arafah hari Jumat.'” Hadits ini pun diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, dan an-Nasa^i. Sehubungan dengan riwayat ini, terdapat pula sejumlah hadits mutawatir yang tidak diragukan lagi keshahihannya. Wallahu a’lam.


Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: