2 comments on “Derajat Hadits Fadhilah Surat Yasin

  1. kalau anda sendiri apa ahli hadis? sehingga dengan mudah mengatakan sesungguhnya membaca surat yasin sama saja dengan membaca ayat lain?
    Pernahkah dan sadarkah anda bahwa alim ulama terdahulu lebih alim dari pada anda?
    Orang seperti anda justru yang harus banyak belajar memahami dan menghormati alim ulama.
    Jangan berani berkata demikian jika anda masih belum bisa menandingi ulama sufi terdahulu.
    Tahukah anda, orang atau golongan yang sering membaca tahlil, yassin adalah orang-orang yang beruntung.
    Jika anda tidak setuju dan hanya mengandalkan bahwa ZAMAN NABI SAW TIDAK PERNAH MELAKUKAN, BERARTI ANDA SEMPIT. Jika begitu, bagaimana pandangan anda tentang penggunaan Al Quran yang ditulis dan anda baca sekarang? bukankah pada zaman Nabi SAW itu tidak ada??
    Membaca tahlil, yassin adalah sebuah amalan baik dan pasti berpahala. Kok beraninya anda mengatakan ini doif.

  2. ana tidak merasa sebagai ahli hadist, tapi ana belajar dari perawi2 hadist yang telah diakui oleh para ulama2 seperti bukhari, Muslim, Nasa’i, Ibnu Majah, Abu Dawud, Imam Ahmad dan lain2…ya mungkin antum belum pernah belajar membaca kitab dan hanya mengandalkan apa yang dikatakan oleh ustadz antum saja tanpa membuktikannya dengan membaca kitab2 atau riwayat hadist2 yang sahih dan dhoif/lemah….apakah antum belum pernah dengar hadist nabi yang berbunyi “”fa inna asdaqol haditsi kitabullah wa khoirul haddihadyi muhammad salolauhu alaiwasalam wa sarol umuri mukhdatsatuha wa kulla mukhdasatin bidahtin wakulla bidatin dholala wakulla dhollati finnar”(sesungguhnya sebaik2 petunjuk adalah ptunjuk allah swt dan sebaik2 prkataan adalah perkataan rasulullah saw dan sejelek jelek perkara adalah PERKARA BARU YANG DIADA-ADAKAN DALAM AGAMA,PERKARA ITU ADALAH BIDAH,SETIAP BIDAH ADALAH SESAT DAN KESESATAN ITU TMPATNYA D NERAKA) adapun tahlil dan membaca yasin dihari2 tertentu itu tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW…coba antum baca sekali lagi artikelnya dengan pelan2 dan antum pahami….oh ya Allah SWT juga berfirman sebelum Rasulullah SAW wafat dalam surat Al Maidah ayat 3 yang berbunyi
    “الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا ”
    Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.
    yang oleh syeikh ibnu katsir diartikan “Pada hari ini telah Kusempurnakan bagimu agamamu, telah Kucukup-kan nikmat-Ku bagimu, dan telah Kuridhai Islam sebagai agamamu.” Inilah nikmat Allah yang paling besar yang dikaruniakan kepada umat ini, karena Dia telah menyempurnakan agama mereka sehingga mereka tidak memerlukan selain agama-Nya dan tidak memerlukan seorang nabi pun kecuali Nabi saw.. Oleh karena itu, Allah menjadikan beliau sebagai penutup para nabi dan Dia mengutusnya kepada manusia dan jin. Maka tiada perkara halal kecuali yang telah dihalalkannya, tiada perkara haram kecuali yang telah diharamkannya, dan tiada agama kecuali yang telah disyariatkannya. Setiap perkara yang diinformasi-kan olehnya merupakan kebenaran dan kejujuran; tiada mengandung dusta dan kekeliruan sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, “Dan kalimat Tuhanmu telah sempurna kebenaran dan keadilannya”, yakni kebenaran infbrmasinya dan ke-adilan yang menyangkut berbagai perintah dan larangan. Setelah Allah menyempurnakan agama bagi mereka, berarti sempurnalah nikmat atas mereka. Oleh karena itu, Dia berfirman, “Pada hari ini telah Kusempurnakan bagimu agamamu, telah Kucukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Kuridhai Islam sebagai agamamu.” Maka ridhailah olehmu Islam untuk dirimu karena ia merupakan agama yang diridhai Allah dan dibawa oleh Rasul yang paling utama dan dikandung oleh kitab-Nya yang paling mulia. Setelah turun ayat ini, kaum mukminin yang muslim tidak memerlukan tambahan apa pun. Sesungguhnya Allah telah menyempurnakan Islam maka jangan pernah kamu menguranginya. Sesungguhnya Dia telah meridhainya maka jangan pernah kamu membencinya. Ayat ini diturunkan pada hari Arafah. Setelah ayat itu, tidak diturunkan lagi ayat yang menyangkut hukum halal dan haram. Rasulullah saw. meninggal 81 hari setelah hari Arafah. Imam Ahmad meriwayatkan dari Thariq bin Syihab, dia berkata, “Seorang Yahudi datang kepada Umar bin Khaththab, dia berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya kalian membaca sebuah ayat dalam kitabmu. Jika ayat itu diturunkan kepada kami, kaum Yahudi, niscaya kami menjadikan hari penurunan itu sebagai hari raya.’ Umar berkata, ‘Ayat yang manakah itu?’ Yahudi berkata, ‘Yaitu firman Allah Ta’ala, “Pada hari ini telah Kusempurnakan bagimu agamamu, telah Kucukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Kusempurnakan Islam sebagai agamamu.” Kemudian Umar berkata, ‘Demi Allah, sesungguhnya aku mengetahui hari diturunkan ayat itu kepada Rasulullah dan saat diturunkan ayat itu kepadanya, yaitu pada malam Arafah hari Jumat.'” Hadits ini pun diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, dan an-Nasa^i. Sehubungan dengan riwayat ini, terdapat pula sejumlah hadits mutawatir yang tidak diragukan lagi keshahihannya. Wallahu a’lam.

Komentar ditutup.